Nepal: Kathmandu dalam Sehari (hari-4)

image

Hari ke-4

Menyelesaikan Pokhara

Hari itu, kembali kami bangun dini hari dan beranjak ke atap hotel untuk menyambut datangnya mentari berhiaskan gagahnya Pegunungan Himalaya. Belum bosan.

Pagi itu ada seorang ibu yang turut naik ke atas bersama kami. Namun dia tidak mengabadikan pagi dalam kamera seperti yang lainnnya. Dia melihat langit, tersenyum pada Anapurna yang membentang, mendekatkan tangan kiri dengan tangan kanannya. Ya, dia mengucap syukur. Ah, hati siapa yang tidak bersyukur diberikan pemandangan demikian oleh Sang Kuasa.

Saya menghabisi pagi dengan bermain-main gambar perspektif: membingkai himalaya atau sekedar menjentikkan telunjuk saya pada puncak Anapurna.

image

image

Lalu kami harus bersiap-siap ke bandara dan meninggalkan Pokhara setelah sarapan.

Himalaya di atas awan

Sang Kuasa masih berbaik hati dengan kami. Seakan mengerti kekaguman kami yang tak jua berakhir, di atas pesawat capung itu kami lagi-lagi disuguhi puncak-puncak bersalju Himalaya bernampan gulungan awan putih.
Rasa syukur rasanya tidak pernah cukup.

image

Garden of Dreams, Oase di Kathmandu

Kami bertemu Kathmandu lagi pagi menjelang siang itu. Panas menyengat kota yang tak teratur itu. Jalanan yang penuh dengan mobil, sepeda, becak, motor, gerobak, kini ditambah dengan taksi yang mengantar kami ke hotel tempat kami menginap di daerah Thamel.

image

Taksi kami mengebut lengkap dengan suara klakson yang tak henti, debu bertebaran dengan pemandangan kabel-kabel listrik yang menggantung bergelung awut-awutan.

Di hotel kami hanya menaruh tas lalu kami beranjak mencari restoran untuk kami makan siang. Dalam perjalanan kami mencari restoran, VOILA! Kami meemukan Garden Of Dreams, oase di Kathmandhu yang semrawut.

image

Taman yang cantik, dengan dihiasi bangunan bergaya Eropa, nuansa Wina sangat terasa di sana. Hamparan rumput hijau yang teduh yang dilengkapi dengan matras empuk untuk para pengunjungnya yang ingin tidur-tiduran sejenak membaca ataupun melepas penat menghadapi Kathmandu. Taman ini dilengkapi restoran, perpustakaan dan wi-fi. Taman indah untuk membangun mimpi.

Festival Kuil di Durbar Square

Sore harinya, setelah menuliskan beberapa kartu pos untuk sahabat-sahabat, kami menyusuri jalan-jalan kecil Thamel, tujuan kami di Kathmandu adalah ke Durbar Square. Dalam perjalanan, kami menemui beberapa kuil kecil dengan bendera-bendera doa warna-warni yang menggantung di puncaknya. Di pelatarannya, kami menemui pasar sayur atau anak-anak bermain dengan rianya.

Ramai dan kisruh. Itu adalah suasana menuju Durbar Square, sebuah pelataran yang berada di seberang kerajaan lama Nepal. Untuk menyebrang di sebuah perempatan di dekatnya dibutuhkan keahlian khusus dan keberanian pasukan perang. Hihihi.

image

Sesampainya di Durbar Square, kami pun sulit menikmati satu demi satu kuilnya karena ramainya orang-orang yang mengunjungi dan berdoa. Ya, kuil di sana banyak sekali, seperti sebuah festival.

Kami pun melipir di salah satu sudutnya. Hari sudah petang, ada kedai kopi Himayan Java di sudut pelataran Durbar. Kami pun merenggangkan kaki, bersantai sejenak sambil menyesap dan menyeruput paduan kopi himalaya dan kopi jawa itu. Sruput.

himalayan java coffee

Malam terakhir

Hari sudah malam, ini malam terakhir kami, kami tidak juga bergegas ke hotel. Lebih baik makan malam dulu baru setelahnya kembali ke hotel, demikian pikir kami.

Kami pun mencari restoran yang cukup direkomendasikan di dekat kami berada. Restoran dengan paduan makanan Nepal dan makanan internasional menjadi pilihan kami. Restoran ini menyediakan ruangan dengan sofa di dalamnya dan dengan teras di atapnya. Kami memilih berada di teras, dekat dengan live music yang memainkan lagu-lagu yang enak sekali dinikmati.

Menu yang satu tidak cocok di lidah, tapi menu lainnya membuat kami memesannya dua kali. Perut kenyang, lidah senang, telinga riang, waktunya pulang.

Hujan datang, saya tidak bawa jas hujan. Berbekal satu jas hujan milik Kakilangit untuk berdua, tentu saja kami kebasahan. Basah sebenarnya tidak masalah, tapi air hujan itu dinginnya luar biasa. Seperti diguyur es batu dari langit.

Lalu kami menyadari bahwa kami sedang berada di negeri dengan puncak dunia berada di dalamnya. Besok paginya kami akan pulang, penutup hari-hari kami di Nepal adalah hujan.

Malam itu kami kedinginan, menggigil, namun kami tertawa, kami hanya bahagia.

image

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.