Pulau Rinca, Pantai Merah Muda dan Pulau Kelelawar

Hari ke-6, Pulau Rinca
Hari ke-6, Pulau Rinca

Saya ingin berterus terang. Saya sebenarnya pemabuk. Sejak kecil bahkan. Hobi mabuk saya lalu menjalar ke konsumsi obat-obatan. Tapi saya tidak pernah menutup-nutupi hal ini. Bahkan guru TK saya pun andil dalam memberikan saya obat ketika kami berdarmawisata agar saya tidak mabuk. Ya, mungkin kamu sudah paham sekarang mabuk dan mengobat yang saya maksud.

Mabuk darat dan laut (udara sih belum pernah dan tidak usah lah ya) beberapa kali menyerang saya yang padahal suka banget jalan-jalan. Biasanya mabuk datang ketika saya tidak dalam keadaan fit. Ini sebenarnya sangat mengganggu,terutama ketika sedang di laut. Tidak banyak yang bisa dilakukan jika sedang dalam kapal dan kamu dalam keadaan mabuk. Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan: (1) melihat jauh ke depan, (2) minum obat anti mabuk, (3) bernyayi dalam hati ‘nenek moyangku seorang pelaut’ dan memotivasi diri bahwa sang nenek itu hebat dan tidak mabuk laut, saya juga harus hebat, hehehe.

Melaut dan tinggal bermalam di kapal kecil adalah tantangan hari ke-6 perjalanan ini.

Gerbang Pulau Rinca
Gerbang Pulau Rinca

Pulau Rinca

Perjalanan diawali sekitar pukul 7.30 pagi, kami bertolak dari Labuhan Bajo dengan kapal kecil bermuatan 6 orang (saya, Kakilangit, Bonnie, Chuck, Ale sang kapten, dan Ifro sang koki). Tujuan awal kami ke Pulau Rinca yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Sekitar jam 10 kami sampai di sana. Ditemani dengan Pak Almond, sang ranger, kami mengambil trekking skala medium. Ada 1228 komodo di Pulau Rinca ini, demikian ujar Pak Almond ketika memberikan briefing ke kami. Kami pun langsung memulai perjalanan kami setelah membayar tiket masuk (lagi-lagi hanya Rp. 2.500!) dan biaya lainnya (kamera dan ranger).

2 ekor komodo menyambut kami di awal perjalanan trekking kami. Ukurannya tidak besar, tapi juga tidak kecil. Mereka sedang tidur-tiduran di bawah rumah panggung yang difungsikan sebagai dapur. Kami antusias sekali. Pikir kami, di awal kami sudah bertemu 2 ekor, di dalam pasti banyak sekali. Beberapa teman yang sudah pernah ke Rinca juga mengatakan akan ada banyak sekali komodo di Rinca meski ukurannya tidak sebesar di Pulau Komodo.

Ketika kami menyusuri trekking skala medium kami, ternyata tidak kami temui satu komodo pun di sana. Memang tidak ada jaminan untuk bisa melihat komodo, apalagi ketika matahari sudah naik tinggi, mereka biasanya kepanasan dan mencari tempat berteduh. Kami hanya bertemu kerbau liar di dalam hutan. Meski demikian, trekking di hutan dan mendapat penjelasan beberapa dari pak ranger cukup seru juga.

Justru di dekat kantor ketika kami menyelesaikan trekking kami, ada satu komodo kecil yang kami lihat di dekat pohon. Pun ketika kami kembali ke dapur, kini ada 3 komodo di sana. Yang ukuran kecil sangatlah aktif. Berjalan kian kemari.

Yuk ke Pantai Merah Muda
Yuk ke Pantai Merah Muda

Pantai Merah Muda

Saya pikir pantai merah muda atau pink beach itu adalah pasir putih yang jika terkena cahaya matahari akan menjadi berwana merah muda. Ternyata saya salah.

Ketika saya berenang dari kapal ke pantai, saya menemukan bahwa hamparan pasir putih itu memang bercampur dengan karang super halus berwarna merah. Karang merah itu pecah dan berpadu indah dengan putihnya pasir pantai. Itu yang membuatnya berwarna merah muda.

Pantai Merah Muda dengan laut toska
Pantai Merah Muda dengan laut toska

Di atas laut ada pantai pasir merah muda, lalu bagaimana keadaan bawah lautnya? Superb! Itu kata pertama saya untuk mendeskripsikan kerajaan laut di sekitar pantai merah jambu ini. Biota keanekaragaman hayati di bawah lautnya sungguh memukau hati. Karang warna-warni dan kumpulan ikan besar kecil yang bergerak ke sana ke mari tiada henti membuat mata tak bosan menyaksikannya. Kami hanya snorkeling, tidak diving, tapi kami sangat puas. Kakilangit bahkan melihat manta kecil.

Pulau Kelelawar
Pulau Kelelawar

Pulau Kelelawar

Kapal kami berlabuh di sekitar Pulau Kelelawar untuk menyaksikan senja di sini dan bermalam di sini. Mereka bilang jika pada waktu senja biasanya kelelawar yang berjumlah banyak itu terbang dari balik bukit dan indah sekali terkena cahaya jingga senja. Tapi hari itu sedang tidak biasa. Tidak ada kelelawar yang kami lihat satu pun. Tak mengapa. Senjanya tetap indah untuk dinikmati.

Malam datang, gelap. Kami makan malam di atas kapal sambil bercakap-cakap mendengar cerita Bonnie dan Chuck ketika mereka mengunjungi berbagai tempat di pelosok dunia. Kami pun juga berbagi sedikit tentang pengalaman kami. Bla..bla..bla.. tidak bosan kami berbagi cerita dengan mereka dan mengenal mereka lebih dalam.

Waktunya tidur. Kami masuk ke kamar seadanya di kapal itu. Kapal bergoyang-goyang pelan. Tidak senyaman tidur di darat, tapi saya berhasil melewatinya.

Tantangan tidur di kapal tanpa disertai mabuk, checked.

Terima kasih Tuhan.

virtri

Perempuan yang berbahagia, yang suka menikmati hidup dan semua karya Tuhan di dalamnya; menikmati setiap likunya, setiap sudutnya, setiap detiknya.

Umm.. dan suka minum kopi ^^

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.