Kuta, Tempat Persinggahan yang Ramah

Hari ke-3, Kuta
Hari ke-3, Kuta

Kuta, tempat yang mungkin sudah biasa, menjadi tujuan wisata semua, baik turis domestik dan manca. Tidak lagi menarik buat beberapa.

Buat saya, ini adalah tempat persinggahan yang pas dan ramah, tempat membuka kotak pandora ingatan-ingatan manis di masa silam: ketika kita tertawa-tawa mencoba bermain selancar seraya menunggu datangnya ombak, ketika kita kelelahan dan meminum air kelapa sambil aku mewarnai kuku, ketika kita duduk bersisian menunggu senja datang di Pantai Kuta, ketika kita bergandengan tangan dalam malam ditemani suara debur ombak dan bintang-bintang yang membentang.

Setelah naik ke Ijen, setelah pergi ke Baluran, setelah menyebrang dengan kapal Ketapang-Gilimanuk, setelah makan Ayam Betutu Bu Lina yang enak luar biasa, tubuh kami terserang diare.

Adalah bijak untuk tidak agresif berjalan-jalan di hari ketiga kami ini. Kami menghabiskan pagi hingga siang di hotel, siang hingga sore kami jalan-jalan naik motor seperlunya saja untuk makan siang dan melihat-lihat Pantai Kuta dan sekitarnya, lalu balik lagi untuk bermalas-malasan saja di hotel sambil bercakap-cakap tentang hal-hal yang tidak penting.

Il dolce far niente.

Jalan-jalan motor2an di Kuta, panas tak mengapa.
Jalan-jalan motor2an di Kuta, panas tak mengapa.
Pantai Kuta yang selalu ramai
Pantai Kuta yang selalu ramai
Menanti senja di Kuta
Menanti senja di Kuta
Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.