Hari Yang Tepat Untuk Berbahagia

Pada pagi itu bandara Gardermoen kota Oslo menjadi parade manusia-manusia bergegas yang kehilangan waktunya. Alih-alih menjadi adegan akhir di sebuah film komedi romantis, ia menjadi pentas keluh kesah dan frustasi para penumpang. Penyebabnya adalah salah satu pesawat dari maskapai nasional negara Skandinavia itu tertunda cukup lama di Bangkok, tepatnya 15 jam. Suasana bandara ini jadi lebih muram dari biasanya.

Ironisnya, pagi itu juga, Norwegia sedang menyambut datangnya musim gugur, merayakan Equinox, saat di mana siang dan malam sama panjangnya. Bagi penduduk ekuator hal ini dirasakan setiap harinya, sedangkan bagi Norwegia hari itu adalah hari libur seantero negeri, hari yang tepat untuk berbahagia.

“Semua penerbangan ke Amsterdam penuh sampai lusa,” jawab petugas pelayanan pelanggan dengan sopan, “kami bisa masukkan Anda ke dalam waiting list penerbangan malam ini.”

Kami menjadi bagian orang-orang yang tertinggal penerbangan lanjutan karena pesawat Boeing 787 Dreamliner yang bermasalah itu, bersama dengan 250 orang penumpang lainnya. Dan lima belas jam adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membuat kami gagal mengunjungi Belanda.

Lalu kami bertanya apakah masih ada tiket untuk Barcelona untuk hari ini mengingat dua hari lagi kami harus ada di Spanyol dan memulai Camino de Santiago.

“Penerbangan ke El Prat juga penuh malam ini, tapi besok pagi masih ada kursi kosong, bagaimana?” Penuh dan mahalnya tiket pesawat di hari-hari itu membuat liburan equinox ini seperti lebarannya orang Norwegia. Pagi itu tiket dari Oslo ke Barcelona sudah menyentuh angka €800 per orang.

Kami memintanya untuk memasukkan kami ke dalam daftar tunggu penerbangan ke Barcelona malam ini dan mengamankan dua kursi untuk jadwal terbang esok pagi jika kami tak bisa berangkat malam ini. Ia mengangguk dan memroses pesanan kami.

“Berapa tambahan biaya yang harus kami bayar?” Tanya kami.

Perempuan itu menggeleng dan menjawab, tidak ada, ini semua adalah kesalahan maskapainya. Semua rute pengganti berapapun biayanya akan ditanggung oleh perusahaannya.

Tak ada yang suka dengan rencana-rencana yang gagal. Tapi pelayanan Norwegian Air di awal musim gugur yang cerah ini cukup membuat kami tersenyum. Hari yang tepat untuk berbahagia.

oslo-sky
Langit Oslo

“Halo,” sapa saya pada seorang bapak tua yang berdiri mematung di depan konter pengaduan masalah. Mungkin saja ia satu penerbangan dengan kami, tertinggal penerbangan selanjutnya, atau tak tahu caranya mengambil nomor antrian.

Dalam kegagapannya ia membalas sapaan, dan mencoba menerangkan masalahnya dalam bahasa Inggris yang patah-patah. Ternyata ia tak mengerti bagaimana cara check-in dengan cepat sementara penerbangannya akan berangkat dalam hitungan menit. Bapak tua itu tak terdengar dalam kebisingan, ia tertinggal dalam kebergegasan Gardermoen.

Norwegia setahu saya punya gaya pemerintahan dan masyarakat yang mirip dengan negara-negara Skandinavia tetangganya. Mereka cenderung condong ke masyarakat madani. Hal itu juga yang menjadikan perjumpaan dengan bapak tua itu cukup mengganjal. Ia mengingatkan saya pada negeri meritokrasi Singapura.

Orang-orang lanjut usia yang menjadi manusia-manusia tertinggal adalah hal yang lumrah di Singapura. Pada pemerintahan meritokrasi, kelas yang paling tinggi dipegang oleh para manusia-manusia terdidik, terlatih, dan para ahli. Ketika laju teknologi dan pengetahuan sedemikian kencang, yang tertinggal jatuh ke kasta paling bawah, bekerja lebih keras untuk bertahan hidup, atau tersingkir dari tanah airnya, memberi tempat bagi yang lebih terampil.

Datanglah ke Batam untuk melihat manusia-manusia tertinggal yang tersingkir dari kompetisi meritokrasi. Christopher Hayes, jurnalis The Nation, pernah menulis jika pada akhirnya meritokrasi akan selalu menuju oligarki. Entah mengapa masih ada yang ingin mengubah Indonesia menjadi seperti Singapura.

Takk, anak muda,” kata bapak tua itu setelah saya bantu dan mendapatkan tiketnya keluar dari mesin check-in otomatis, “senang masih menemukan orang seperti Anda di Oslo.”

Saya melihat petugas bandara tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah bapak tua itu ketika ia berlari kecil menuju gerbang keberangkatan. Ah, pada langit musim gugur yang biru, negeri yang madani, dan bapak tua yang menolak untuk menjadi tertinggal, hari itu adalah hari yang tepat untuk berbahagia.

gardermoen
Orang-orang bergegas di Gardermoen.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

2 thoughts on “Hari Yang Tepat Untuk Berbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.