Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

colorlessSebagai penggemar Haruki Murakami, saya tidak pernah membeli novelnya melalui Kindle. Saya merasa perlu memiliki karya-karyanya dalam bentuk fisik. Walau barangkali itu cuma perasaan sentimentil kolektor gadungan saja.

Saya hanya pernah membeli dua karyanya dalam versi hardcover dalam segala ketidak-sabaran: The Strange Library dan 1Q84. Sisanya paperback. Saya suka versi paperback, selain ia cocok untuk dibawa bepergian karena enteng, ia juga lebih murah. Tapi biasanya versi paperback akan diproduksi dalam jeda waktu cukup lama dari cetakan pertama sebuah buku.

Begitu juga dengan Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, saya baru bisa memiliki versi paperbacknya setelah dua tahun sejak novel ini keluar pertama kali circa 2013 untuk dihabiskan dalam setengah hari. Layaknya novel-novel sebelumnya, ia langsung terjual habis dalam antrian yang mirip seperti antrian iPhone baru di Apple Store, atau antrian album baru The Beatles. Satu juta buku dalam seminggu. Di Jepang saja.

Saya membayangkan para pembeli pertama yang mengantri di depan toko buku itu adalah karakter-karakter yang kerap ditulis Murakami: manusia-manusia yang kecewa, kehilangan, diasingkan, yang tak berwarna. Di buku ini, Murakami bercerita tentang itu semua pada diri Tsukuru Tazaki.

Dalam cerita yang lebih dekat ke Norwegian Wood ketimbang The Wind-Up Bird Chronicle, penulis Jepang ini berkisah tentang hal-hal biasa dengan janggal dan luka dari masa lalu yang tak pernah bisa sembuh. Seperti sebelumnya, membaca novel Murakami adalah bersiap untuk memaknai kehilangan. Tsukuru Tazaki kembali menegaskan itu. Pria berumur 36 tahun tanpa warna dengan hidup yang membosankan. Satu-satunya warna dalam hidupnya hanyalah empat orang teman, Mr. Red, Mr. Blue, Miss. White, dan Miss Black, yang memutuskan untuk tidak mau lagi bertemu dengannya. Dan itu terjadi 16 tahun yang lalu.

The amazing time in our lives is gone, and will never return. All the beautiful possibilities we had then have been swallowed up in the flow of time.

Adalah sihir Murakami yang membuat cerita sesederhana ini seperti menyambung-nyambungkan semua bukti yang berceceran, menghempaskan ke arah yang berlawanan, menyesatkan langkah pembacanya tanpa ada penutup yang jelas. Karena dalam novel ini tak ada yang benar-benar diselesaikan.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.