Anak Panah Kuning

sarria-1
Tanda panah kuning dan seorang sahabat

Siapapun yang pernah menjalani Camino de Santiago pasti sangat familiar dengan tanda anak panah berwarna kuning, selain simbol kerang tentunya. Seperti kegiatan mencari jejak, panah kuning ini memandu para peziarah berjalan menuju makam San Tiago. Akan sangat sulit menelusuri jejak kuno sepanjang 780km dari Saint-Jean-Pied-de-Port ke Santiago de Compostela tanpa panah kuning ini.

Para peziarah masa kini patut berterimakasih pada pastor paroki di O Cereibro bernama Don Elías Valiña Sampedro yang mempelajari rute St. James seumur hidupnya. Dialah yang menghidupkan lagi rute Perancis (Camino Francés), rute Camino paling populer saat ini, di tahun 1984 dengan cara membersihkan dan menandai jejak sepanjang Camino. Legenda mengatakan bahwa Don Elías mengendarai Citroën GS menyusuri Spanyol dengan membawa bergalon-galon cat berwarna kuning, melukis anak panah ke arah Santiago de Compostela.

“Aku tak akan mengaku memulai Camino dari Sarria,” kata Andrew, seorang peziarah dari London yang merasa jika berjalan 114km sedikit memalukan, “aku akan membuat muka kelelahan agar orang-orang berpikir aku berjalan dari Saint-Jean-Pied-de-Port.”

andrew
Andrew, mengaku sajalah jika kita semua memulai Camino dari Sarria

Kami tertawa melihat kelakuannya. Beberapa saat kemudian langkah-langkah lebar kaukasianya meninggalkan kami dan menghilang di balik pohon besar dengan tanda panah kuning.

Lalu kami pun kembali melangkah, mencari anak panah berwarna kuning dan mengikutinya menuju Santiago de Compostela.

“Santiago, Santiago, Santiago,” kami mendengar segerombolan peziarah bernyanyi riang dengan nada yang dibuat-buat dari belakang ketika memasuki Lavacolla.

“Hai,” sapa kami pada muka-muka yang ternyata kami kenal. Mereka adalah kumpulan riang gembira yang kami temui hari sebelumnya di Arzúa. Setelah kemarin mereka menawarkan pelukan gratis dan roti buatan sendiri bagaimana kami bisa lupa.

“Ikuti panah kuning!” Seru salah seorang dari mereka. Kali ini tanda itu tidak berada di pohon, dinding, jalan, atau batu, melainkan di kepalanya.

follow-the-arrow
Ikuti anak panah kuning!

Dalam langkah-langkah kami, kami bertemu dengan banyak peziarah dari berbagai bangsa dengan bermacam-macam alasan dan tujuan melakukan Camino. Kami sadar betul dengan menjalani Camino melalui rute Perancis kami tak selalu mendapat keheningan dan kesunyian layaknya apa yang diharapkan dari sebuah ziarah.

Tapi bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah ziarah. Hidup yang tak hanya sunyi, tapi kerap bising. Yang meskipun tanpa tanda anak panah berwarna kuning kita tetap saja berjalan.

Buen Camino.

 


[yinstagram hashtags=”#travelishpost4yellowarrow”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.