Roma Yang Sunyi

roma

Ibu kota Italia ini sepertinya memang ditakdirkan sebagai pusat dunia, setidaknya dalam hal tujuan wisata setelah ia tak lagi benar-benar menjadi Caput Mundi sejak beberapa abad yang lalu. Ia layaknya plasa besar bagi spesies homo sapiens. Seperti toko serba ada, semua jenis manusia bisa ditemukan di kerumunan di Piazza San Pietro atau Piazza Trinità dei Monti. Riuh ialah kata yang ditemukan pada ruang publik orang Italia yang sangat ekspresif. Lalu lalang manusia dan bebunyian berbagai macam bahasa mudah dijumpai di Piazza della Rotonda, Piazza Navona, atau pancuran Trevi.

Sunyi adalah sebaliknya, ia menjadi kata yang susah dipasangkan dengan kota abadi ini. Roma tak pernah sepi, kamu tahu itu.

“Bangunan-bangunan masa lalu dan relijius sengaja dibuat sedemikian besar, luas, dan indah agar kita mudah menyublim”, kataku padamu. Ya, menyublim, seperti perasaan yang muncul ketika kita mendengar guntur.

Tetapi obelisk besar di tengah plasa itu tak lagi mengintimidasi, pun keindahan pahatan Bernini tentang Danube, Gangga, Nil, dan La Plata pada Fontana dei Quattro Fiumi tak juga membawa kita untuk sejenak diam.

Kamu hanya tersenyum. Menyadarkanku bahwa kita pun sebenarnya kerap menyublim. Di Castel Sant’Angelo, Pantheon, Colosseum, atau di ujung jalan; apa saja yang mampu menghentikan langkah kaki kita meskipun cuma sesaat. Di situ, Roma tak lagi ramai.

Koloseum
Koloseum

Atau saat kamu menarik tanganku menuju ujung Basilika Santo Petrus untuk mengikuti sebuah misa. Di belakang makam Santo Petrus sang pendiri gereja. Di jantung agama Katolik. Kita pun menyadari bahwa mereka tak lagi ekslusif. Menemukan perempuan berhijab di Roma dan Vatikan sama mudahnya seperti di Bandung. Atau fakta bahwa selain memiliki masjid terbesar di Eropa, Roma juga menjadi tempat bagi Tempio Maggiore, sinagog kaum Yahudi.

Dan pilihan untuk menjadi inklusif di jaman yang penuh prasangka, intoleransi, fanatisme, adalah jalan yang amat sunyi.

misa
Misa di Basilika Santo Petrus

Kota ini menjadi lebih sepi ketika kita berjalan di belakang pasangan tua di sekitar Forum Romanum. Dengan cara melangkah yang pelan, waktu seakan ikut melambat saat kita tanpa sadar mengikuti mereka. Sang nenek telah kepayahan menyusuri kontur puing kota kuno Roma yang berbukit-bukit, sedangkan pasangannya yang tak kalah tua dengan sabar menjaga dan menemaninya dari belakang.

“Aku ingin, dan tak ingin menjadi seperti mereka,” ujarmu. Dan aku mengerti apa maksudmu.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.