Once the Musical

OnceMusicalMelbourneSaya tak bisa melupakan kisah cinta yang menarik antara Guy dan Girl dalam balutan musikal di film Once (2007). Bahkan film ini adalah salah satu film yang tak pernah bosan saya tonton berulang-ulang—nasibnya sama dengan trilogi Before-nya Richard Linklater.  Glen Hansard & Markéta Irglová membuat standar film musikal modern ke tingkat yang lebih tinggi: dan itu terbukti dengan diganjarnya lagu Falling Slowly dengan Oscar & Grammy.

Hal-hal itu dan ditambah dengan pengalaman saya melihat teater musikal ternyata hanya beberapa yang berkesan; seperti Phantom Of The Opera di Jakarta, dan La Sonnambula di Wina membuat saya tidak menaruh harapan begitu tinggi ketika membeli tiket pertunjukan Once the Musical yang kebetulan sedang bermain di Melbourne sejak 26 September 2014.  Glen & Markéta already set the bar so high, pikir saya. Setidaknya daftar lagu yang bagus membuat antusias saya untuk melihat mereka di Princess Theatre tidak berkurang.

Sebelum pertunjukan berlangsung para pemain sudah melakukan jam session di atas panggung yang sengaja dibuat intim dengan penonton yang bisa naik dan melihat mereka dari dekat. Semacam unjuk kemampuan bermain musik, menari, dan bernyanyi. Beberapa saat kemudian penonton di atas panggung dipersilahkan turun dengan para pemain tetap beraksi. Dalam sekejap setelah keriaan The North Strand, Tom Parsons sebagai Guy menyanyikan lagu Leave. Menandai pertunjukan sudah dimulai. Tanpa jeda. Pembukaan yang halus. Seakan muncul perlahan dari belakang keriuhan penonton. Pertunjukan ini sudah memikat hati sejak awal.

“I can’t wait forever” is all that you said before you stood up.
But you won’t disappoint me I can do that myself. But I’m glad that you’ve come.
Now if you don’t mind: leave, leave, and free yourself at the same time

Jika lagu ini adalah intro yang tepat bagi perkenalan Guy sebagai busker Dublin berbakat yang sudah membuang musik & cinta jauh-jauh dari hidupnya karena patah hati, maka bagian awal Falling Slowly dari Madeleine Jones ketika memaksa Guy berduet dengannya adalah pembuka yang brilian untuk mengenalkannya sebagai Girl, imigran Ceko yang tanpa basa-basi, kocak, dan segar. Tentu saja duet Falling Slowly dinyanyikan dengan indah dan emosi yang begitu kuat. Penonton dipersilahkan untuk terdiam, merinding, atau berkaca-kaca.

Saya menyaksikan bagaimana tiap adegan berganti dengan tanpa cela dan tanpa ada tambahan kru panggung. Semua dilakukan oleh pemain yang sama. Sebuah tontonan yang jujur dan intim. Piano yang bergeser. Penggunaan cermin. Kursi. Meja. Seakan semua properti panggung ikut hidup dan berdansa gembira saat Baruska menyanyikan Ej Pada Pada Rosicka.

Pada adegan Say It To Me Now pertunjukan menjadi sangat menarik karena ia diterjemahkan dengan benar-benar berbeda. Saya rasa saya tak bisa menjelaskan dengan meyakinkan bagaimana adegan Guy menyanyikan lagu ini di depan seorang Bankir adalah sesuatu yang bisa membuat mata saya mulai panas dan berair.

Kemudian saya benar-benar jatuh cinta dengan pertunjukan ini ketika mereka memainkan lagu Gold. Ia adalah parade visualisasi yang cerdas, musikalitas yang cantik, dan semacam kehangatan yang menyenangkan. Saya bahkan masih bisa memutar ulang adegan ini di kepala saya, merasakan kehangatan yang sama, dan kembali membuat saya tersenyum.

And I love her so I wouldn’t trade her for gold…
Walking on moonbeams I was born with a silver spoon.

Ah, saya tak menduga ini menjadi pertunjukan musikal terbaik yang pernah saya lihat sejauh ini. Interpretasinya cukup orisinal, bahkan bagi saya, dengan masuknya beberapa komposisi baru Glen Hansard, tafsiran Once the Musical ini lebih baik dari filmnya. Jika kebetulan ada yang sedang berada di Melbourne sampai 1 Februari 2015, pertunjukan ini wajib untuk ditonton.

ONCE_2014_MELB_3186-1024x597

Lalu ketika semua pemain telah undur diri dan suara standing ovation masih bergema, saya menyadari jika ini adalah pertunjukan yang mampu mengingatkan bahwa jantung saya ternyata masih berdetak, dan mata saya masih bisa menangis. Dan yang paling menyebalkan adalah ia seakan datang menyelinap diam-diam dengan membawa sesuatu yang selama ini saya rindukan.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

2 thoughts on “Once the Musical

  1. *puk puk Firman dulu sebelum comment. Tidak setiap pertunjukan memang punya Aura, menurut pengalamanku walupun random sekalipun artist yang perform di panggung tapi kalau sudah punya aura pasti berkesan. Aku pernah baca di buku, tidak semua orang bermain dengan ketukan yang sama. Ketika mereka bermain dengan menggunakan “ketukan” yang sama dengan nafasnya (tidak dibuat-buat atau mengikuti aturan) maka mereka akan menghasilkan pertunjukan yang luar biasa. Begitu juga dengan hidup, kita harus berbuat segala hal yang “ketukannya” sama dengan nafas kita.

    1. Kesanku lebih pada mereka bermain di ketukan yang sama ketimbang aura, mungkin saja karena yang tampak adalah relasi yang kuat di antara para pemain di tiap adegan. Dan tentu saja musik yang berkelindan dengan itu semua.

      — Babik! Kirain ci mau ngebodor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.