Flat White, Melbourne, Dan Kisah-Kisah Yang Terbawa Bersama Wangi Kopi

“Tuan Barista, saya minta secangkir kopi yang sesuai  dengan cuaca yang sangat indah hari ini.”
Espresso?”
“Terlalu kuat. Tolong tambahkan susu.”
Tuan Barista menawarkan cappuccino.
“Sangat berbusa.”
Lalu secangkir latte datang.
“Ah, terlalu milky, dan kopinya kurang kuat.”

Jika percakapan ini terjadi di sekitar Piazza Navona, bisa jadi tuan Barista sudah mentertawakan pelanggannya ketika menawarkan cappuccino, yang lebih terkenal sebagai minuman untuk anak-anak di Italia.

Tapi seandainya ini terjadi di Victoria Market, besar kemungkinan tuan Barista akan menuangkan buih susu di atas double espresso yang melebur dengan krema dan menopang rasa kopi, busa susu yang lembut itu tak akan menghancurkan krema seperti cappuccino atau menenggelamkannya seperti latte: secangkir flat white yang sempurna.

Meski ia tidak sekuat cortado, ia tak seringan latte dan cappuccino, dan menyesapnya adalah seperti merasakan espresso tapi lebih lezat. Minuman yang sering dikira small latte ini ditemukan di Australia circa 1970 lalu disempurnakan oleh Selandia Baru di 1980-an. Maka pilihan Melbourne sebagai titik perburuan flat white adalah suatu keniscayaan. Seperti mencari sate Padang di Padang Panjang, atau gudeg di sekitar Wijilan, ada harapan begitu besar pada kualitas rasa yang asli jika menikmati di daerah asalnya.

MarketLane27

Menurut saya, orang-orang di Melbourne sangat intens dengan minuman hitam ini. Kedai-kedai kopi bisa ditemukan setiap beberapa ratus meter di sekitar CBD. Hampir setiap kafe yang kami kunjungi memanggang, menggiling, dan meracik kopinya sendiri. Mereka rata-rata gila kopi, sangat terobsesi, bahkan dibandingkan dengan orang-orang di Roma. Mungkin salah satu tips agar selamat di Melbourne adalah jangan mengaku suka dengan kopi sachet.

Pada kedai kecil di seberang Victoria Market, wangi kopi yang menyeruak saat pintu dibuka membawa kisah tentang sekumpulan orang yang terobsesi, hidup, dan bernafas dengan kopi; Market Lane Coffee. “We love to make coffee for the city that loves to drink it,” adalah grafiti mereka tulis dengan sedikit kebanggaan di kaca luar kedai berdinding putih ini. Dengan racikan espresso dari biji kopi El Savador dan Ethiopia, mereka menyajikan salah satu flat white terenak yang pernah saya minum. Setiap sesapannya membuat saya mengingat 31 ayat di surat Ar-Rahman: maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Di sela-sela wangi biji kopi inilah berbagai kisah di balik minuman dari surga ini diceritakan. Pada tangan-tangan pengrajin kopi imigran Melbourne dari Italia dan Yunani setelah Perang Dunia II ini biji-biji kopi dari seluruh dunia itu mulai dipanggang, digiling, dan diracik dengan indah. Itu adalah asal mula Melbourne menjadi kota kopi.

Salah satu kisah awal peradaban kopi adalah tentang seorang muslim India yang melakukan perjalanan haji di abad 17 dan jatuh cinta dengan kopi ketika melewati Yaman. Saat itu kopi adalah emas dari Timur Tengah, tak ada tanaman kopi di luar daerah itu selama lebih dari 500 tahun. Biji kopi yang dikirim dari jantung ekonomi kopi ke luar negeri biasanya direbus atau disterilkan. Hukuman berat akan dijatuhkan untuk para pencuri, dan penyelundup biji kopi.

Namun aroma dan rasa kopi yang surgawi itu membuat muslim itu nekat menyelundupkan 7 benih kopi di pinggangnya untuk ditanam di India. Dan dari semangat 7 benih itu, tanaman kopi menyebar ke Eropa, Indonesia, Brasil, lalu ke seluruh dunia. Ia bernama Baba Budan. And the rest is history.

Dan tentunya bukan kejutan lagi ketika kami mendapatkan kopi enak saat mengunjungi kedai kopi Brother Baba Budan dan Seven Seeds. Ia yang tak mengecewakan Baba Budan akan mendapatkan tempat yang sesuai di surga kopi.

Lalu pada Sbriga kami menemukan kehangatan. Sbriga sendiri berarti bergegas dalam bahasa Italia. Konsep kedai kopinya adalah memberikan 15 menit terbaik ke dalam hidup pelanggan dengan kopi asli. Saya bersyukur bisa mengunjungi kedai ini dan berbincang-bincang dengan Mario Simeone, pemilik Sbriga. Selain membuat kopi yang nikmat, ia menghangatkan kafe mungil ini dengan percakapan-percakapan kecil dengan para pelanggannya, salah satunya kebetulan basah karena tiba-tiba turun hujan yang cukup deras di kota yang terkenal dengan 4 musim dalam sehari ini. Melalui secangkir kopi, Mario memanusiakan manusia.

Dan jika kebetulan Anda melewati Sbriga, Anda tak perlu bergegas.

And how do you like your coffee, mate?

sbriga

Latest posts by kakilangit (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.