Nara Yang Pemalu

nara-07

Nara (奈良市 Nara-shi) bak anak pemalu di antara Kyoto yang sangat terkenal dan Osaka yang glamor dalam segi tiga kota wisata utama propinsi Kansai. Bisa jadi karena ia tak memiliki kuil sebanyak Kyoto, atau jika dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit Osaka, tanpa membawa-bawa Universal Studio Jepang atau Osaka Aquarium Kaiyukan pun, Nara layaknya sebuah dusun.

Tapi mungkin itulah yang menarik kami untuk mengunjungi ibukota pertama Jepang ini, selain kami berdua sebenarnya kurang bisa menyatu dengan kota-kota metropolitan seperti Tokyo, dan Osaka; terlalu bising. Untuk menuju Nara hanya dibutuhkan 45 menit saja menggunakan kereta Kintetsu Nara Line Express (急行 Kyūkō) dengan tiket seharga ¥620 dari stasiun Kyoto.

Dengan jalur kereta yang tidak semasif Tokyo, Osaka, atau Kyoto, Nara membangun kota yang ramah bagi pejalan kaki. Tapi jika lelah berjalan kaki, sewalah sepeda. Dibanding Kyoto, pusat kota yang berumur lebih dari 1300 tahun ini sangat kecil, cukup dengan waktu sehari hampir seluruh titik menarik sudah bisa dikunjungi. Selain itu kontur geografis Nara lebih datar, sesuai etimologi kata Nara yang berasal dari narasu (均す), yang artinya meratakan.

nara-08

Selain itu Nara adalah kota yang hening. Bagi kami, pedestrian dari Jakarta, berjalan di trotoar kota kuno Nara adalah sebuah kemewahan, ia tak gaduh meski harus berbagi dengan sepeda, dan rusa. Ya, rusa liar. Mereka ada di taman kota Nara, di kuil-kuil, di trotoar, di jalan utama, di halaman balai kota, mereka ada di mana-mana. Rusa adalah penduduk kelas satu kota Nara.

nara-04
Kasuga-taisha (春日大社)

Asal muasal dari mana datangnya rusa-rusa ini bisa ditelusuri dari sejarah kuil Kasuga-taisha (春日大社) yang mengisahkan dewa petir Takemikazuchi yang datang ke Nara dengan menunggangi rusa putih untuk melindungi ibukota yang baru saja berdiri. Sejak rusa dipercayai sebagai hewan surgawi yang melindungi Nara dan Jepang, populasinya terus meningkat sampai lebih dari 1200 ekor. Dan Takemikazuchi dipuja di kuil Kasuga. Membungkuklah pada rusa-rusa ini, dan mereka akan membalasnya.

nara-03

Pada jalan berbatu dan menanjak ke kuil Kasuga, ribuan lentera batu menjadi pagar pelindung yang gelap dan dingin. Tiga ribu lentera itu hanya dinyalakan dua kali dalam setahun, dalam Setsubun Mantoro di awal Februari, dan pada Obon Mantoro di tengah Agustus. Di jalan setapak ini suara rusa terdengar lebih menusuk, mungkin saja mereka sedang menyampaikan pesan-pesan rahasia pada dewa-dewa Shinto yang bersemayam di kuil-kuil dan pegunungan Nara.

nara-10
Tōdai-ji (東大寺)

Pada kuil Timur yang Agung, Tōdai-ji (東大寺), kami bertemu dengan patung perunggu Buddha Wairocana terbesar di dunia. Oleh orang Jepang, ia disebut Daibutsu (大仏) yang dianggap sebagai penubuhan konsep ketiadaan. Di sebuah lubang pada salah satu tiang penyangga Tōdai-ji yang besarnya disebut sama dengan lubang hidung Daibutsu, terlihat serombongan pelajar chūgaku antri untuk bisa masuk merangkak ke dalamnya. Mereka percaya yang mampu melalui lubang itu akan mengalami pencerahan di kehidupan selanjutnya.

nara-06
Daibutsu (大仏)

Pada rintik gerimis yang turun, pada patung Binzuru yang usang, pada tiga ribu lentera kelabu yang dingin, pada sisa tiket JR West, pada topi kuning anak-anak sekolah, pada alas tatami dan futon yang tidak tebal, pada sepeda kayuh sewaan, pada kuil-kuil agung, pada dewa-dewa Shinto, pada wujud Buddha yang sunyata, pada nyanyi ribuan rusa liar, ah, pada kota Nara yang pemalu; kami jatuh hati.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.