Kabuki Yang Menyelamatkan Osaka

osaka-02

Jika saya pernah berkata tidak begitu suka dengan Osaka (大阪 Ōsaka) karena bisingnya metropolitan, maka saya tarik kembali kata-kata itu. Bukan karena gedung-gedung pencakar langit yang indah dilihat dari Umeda Sky Building (梅田スカイビル Umeda Sukai Biru) ketika malam tiba yang membuat saya berubah pikiran. Bukan juga karena ada AKB48 Cafe & Shop Namba yang lebih keren dari Akihabara. Bukan karena Kastil Osaka (大坂城 Ōsaka-jō) yang mengingatkan saya pada Benteng Takeshi. Bukan karena Osaka Aquarium Kaiyukan (海遊館 Kaiyūkan) yang jadi akuarium terbesar di dunia setelah Georgia. Dan bukan pula oleh sebab berjalan-jalan di Dōtonbori (道頓堀) yang ramai dan menyenangkan, melintasi jembatan Ebisu, dan berjumpa dengan billboard Glico Man raksasa yang konyol itu.

Tapi karena kami bertemu dengan gedung Osaka Shōchiku-za (大阪松竹座) di saat yang tepatlah penilaian saya terhadap kota metropolitan terbesar kedua setelah Tokyo ini berubah. Dalam pertunjukan kabuki (歌舞伎) berjudul Natsu Matsuri Naniwa Kagami  (夏祭浪花鑑) yang arti kasarnya Festival Musim Panas: Sebuah Cermin Tentang Naniwa (Osaka) ini saya menarik kata-kata itu.

Tidak berbeda di gedung-gedung kesenian lainnya, kami berburu tiket masuk dengan harga murah. Untuk kota-kota di negara maju selalu ada tiket murah untuk penikmat kesenian berbudget terbatas. Di Wiener Staatsoper dan Sydney Opera House ada yang namanya tiket berdiri, di Princess Theater bernama tiket terhalang tiang, dan di Osaka Shōchiku-za ada tiket kabuki satu babak selama 100 menit, untuk pertunjukan hari itu harganya ¥1800.

Mungkin karena cerita kabuki kali ini awalnya adalah cerita untuk pertunjukan bunraku (文楽) kami disuguhi pementasan dengan adegan gerak yang  lebih banyak dari adegan dialog. Ditambah sebelumnya kami sempat melihat pentas bunraku Date Musume Koi no Higanoko (伊達娘恋緋鹿子) di Kyoto: kami cukup bisa tertawa di adegan-adegan kocak, atau bertepuk tangan jika mereka melakukan gerakan indah. Jika ingin melihat seperti apa bunraku, di Indonesia ada Paper Moon Puppet dari Yogyakarta yang sedikit banyak mirip dengan bunraku.

Apa yang menarik dari pertunjukan yang bahkan bahasanya pun kami tak mengerti? Tidak seperti menonton operet di Wiener Staatsoper yang jika pertunjukannya berbahasa alien pun kami masih bisa mengerti karena kami di setiap tempat duduk kami disediakan live subtitle, menonton kabuki di Osaka adalah sebuah seni mengartikan seni.

Seperti teater rakyat pada umumnya, pertunjukan yang semua pemainnya laki-laki ini melingkupi seluruh spektrum emosi manusia. Dari hubungan antara mertua dan menantu, keserakahan tuan tanah, keinginan untuk membalas dendam, sampai pahitnya cinta yang tertolak. Agar tidak bingung sepanjang pertunjukan, saya membaca sinopsis cerita sebelumnya. Natsu Matsuri Naniwa Kagami adalah tentang kisah laki-laki dan perjuangannya untuk menyeimbangkan cinta, kewajiban, dan pengabdian pernikahan. Cukup klise. Tapi tak apa jika nantinya membosankan, toh cuma satu babak.

Kami duduk tenang, lampu dimatikan, tirai dibuka, spotlight pada panggung kayu besar dan jembatan yang membelah tempat duduk penonton persis seperti catwalk. Semoga kami tidak salah masuk ke fashion show. Lalu para aktor yang mulai muncul dan set kios sake di tengah panggung meyakinkan kami ini bukan acara dari Vogue. Demi tuhan kabuki, kostum warna-warni, wig, cemong make-up yang mencolok, pose yang hanya bisa dilihat di manga, dan gerakan yang lebaynya larger than life itu menjadikannya pertunjukan yang menyenangkan.

Jangan kaget jika mendengar penonton di sebelah Anda berteriak ketika pertunjukan berlangsung. Jangan juga tersinggung, atau menyuruh dia keluar gedung. Karena dalam kabuki hubungan antara antara aktor dan penonton sangat dekat, penonton menunjukkan buktinya dengan bersorak memanggil yagō (屋号) atau nama panggungnya. Sorakan penonton ini disebut kakegoe (掛け声) dan biasanya mereka melakukannya saat aktor favoritnya melakukan gerakan khas. Kegiatan ini bisa dibayangkan begini; jika Kotaro Minami berpose saat melakukan henshin dan ada yang berteriak, “Mas Kotarooo!!”. Itulah kakegoe.

Pada setiap gebrakan suara sandal kayu beradu dengan panggung, saya menantikan aktor berpose komikal. Pose mie (見え) itu memberi perasaan yang riang dan diiringi dengan tepuk tangan. Juga pada adegan tachimawari (立廻り), pertarungan unik yang biasanya tersusun dari seorang protagonis yang dikeroyok banyak orang dan berputar-putar seperti bermain ular naga panjangnya.

Tanpa mengerti bahasanya pun, kabuki akan tetap menyentuh penonton melalui setiap tari, musik, dan aktingnya. Mengalami pergantian scene yang cepat dalam kabuki adalah seperti membalik halaman komik manga. Pada setiap pesan di balik gestur, pada tarian yang indah,  kabuki seperti membawa imaji lirik puitis ke dalam alam nyata. Dan pada pose komikal, dan guyonan melalui fisik yang elegan, kabuki seperti menunjukkan potret kehidupan, sejarah, impian, dan tentunya politik orang Jepang yang dirayakan dengan riang.

Pada akhirnya berkat kesenian seperti kabukilah, kota metropolitan Osaka ini tetap beradab dan manusiawi. Apakah kesenian menyelesaikan persoalan? Tentu tidak, tapi ia membuat kita menghadapi persoalan dengan lebih lembut, dan tentunya lebih arif.

kakilangit

Certified scuba diver, avid traveler, zealous book reader, amateur photographer

Latest posts by kakilangit (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.